Amerika Menyerang Irak

Tony Blair, PM Inggris 1997-2007, mengakui bahwa informasi intelijen tentang senjata pemusnah massal di Irak ternyata salah dan invasi telah membuat Irak tidak stabil. Namun ia masih percaya negara itu akan lebih baik tanpa Saddam.(Associated Press)

BAGHDAD, KOMPAS.com - Perang Irak vs Amerika Serikat berawal ketika invasi AS ke negara kaya minyak itu pada 2003 untuk memburu Saddam Hussein.

Amerika

Pada 20 Maret 2003, AS memimpin invasi ke Irak setelah presiden saat itu George W Bush menuduh Saddam Hussein memegang senjata pemusnah massal.

As Serang Lima Posisi Hizbullah Di Irak Dan Suriah

Pada 9 April 2003 pasukan AS merebut Baghdad. Patung Saddam Hussein digulingkan oleh tank AS dengan bantuan kerumunan orang Irak yang gembira.

Pada 13 Desember 2003, Saddam Hussein ditangkap di dekat kampung halamannya di Tikrit setelah sembilan bulan dalam pelarian. Dia digantung tiga tahun kemudian.

Pada April 2004, gambar-gambar penyiksaan dan pelecehan terhadap orang Irak yang ditahan di penjara militer Abu Ghraib yang dikelola AS mengejutkan dunia, merusak posisi Amerika di Irak.

Alasan Amerika Serikat Hancurkan Irak Saddam 2003 Lalu

Pada November 2004, lebih dari 10.000 tentara Amerika dan 2.000 personel Irak menyerang kota Arab Sunni Fallujah, yang menjadi simbol perlawanan terhadap pendudukan, setelah hukuman mati tanpa pengadilan terhadap empat orang Amerika pada bulan Maret.

Pada Februari 2006, ekstremis Sunni yang terkait dengan Al Qaeda meledakkan kuil Syiah di Samarra, memicu gelombang pembunuhan sektarian yang berkecamuk hingga 2008 dan menyebabkan puluhan ribu orang tewas.

Pada Januari 2007, George W Bush mengumumkan pengerahan 30.000 tentara lagi, sehingga totalnya menjadi 165.000, dengan penambahan lonjakan itu diperlukan untuk memulihkan kendali.

Perang Mematikan Di Dunia Yang Didalangi Oleh Amerika

SAUL LOEB / AFP Presiden AS berpamitan saat hendak masuk ke dalam pesawat Airforce One dan terbang meninggalkan Laos.4. 2009: AS mulai pergi

AFP/ISNA/MEHDI GHASEMI Foto yang diambil pada 14 September 2013, menunjukkan Komandan Pasukan Quds, cabang dari Garda Revolusi Iran, Mayor Jenderal Qasem Soleimani, ketika mendapat ucapan belasungkawa atas kematian ibunya di Teheran. Soleimani tewas dalam serangan yang diperintahkan Presiden AS Donald Trump di Baghdad, Irak, pada 3 Januari 2020.6. 2019: Perang dengan Iran

Sejak invasi, musuh bebuyutan Amerika, Iran, memperkuat pengaruhnya atas Irak, mendukung pasukan paramiliter Hashed Al Shaabi yang memainkan peran kunci dalam mengusir ISIS.

Gagal Mengalahkan Suriah Kini Israel Dan Amerika Menyerang Irak

Pada 3 Januari 2020, jenderal top Iran Qasem Soleimani dan komandan senior Hash Abu Mahdi Al Muhandis tewas dalam serangan drone AS di Baghdad.

Pada Agustus 2020, presiden AS saat itu Donald Trump mengatakan, pasukan AS akan meninggalkan Irak tetapi tidak menyebutkan tanggalnya. Jumlah pasukan dikurangi dari 5.200 menjadi 3.000 pada September.

Pada Juli 2021, Presiden Joe Biden mengatakan, operasi tempur AS di Irak akan berakhir tahun itu, tetapi tentara akan terus melatih, memberi saran, dan mendukung militer Irak dalam perang melawan ISIS.

Kenapa As Berbohong Untuk Menyerang Irak?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram Kompas.com News Update, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sejarah

Berita Terkait China, Rusia hingga AS Sepakat Tidak Ada yang Bisa Memenangkan Perang NuklirKorsel dan AS Sepakat Akhiri Perang Korea, Apa Kabar Korut?Selain Nuklir, Ini Senjata Rahasia Iran jika Perang Lawan ASKorea Selatan dan AS Sepakati Rancangan Naskah untuk Mengakhiri Perang KoreaUkraina Latih Warga Sipil untuk Perang Lawan Rusia

Jixie mencari berita yang dekat dengan preferensi dan pilihan Anda. Kumpulan berita tersebut disajikan sebagai berita pilihan yang lebih sesuai dengan minat Anda.Fajr 04:45 WIB Sunrise WIB Dhuhr 12:02 WIB Asr 15:24 WIB Maghrib 17:57 WIB Isha 19:09 WIB Waktu Maghrib WIB | Selasa, 7 Muharram 1445

Dua Tentara Amerika Tewas Di Irak

Sekurangnya ada tiga teori yang dapat menjelaskan persoalan tersebut. Pertama, perang ini bertaut dengan kepentingan geopolitik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Kedua, perang ini berkait dengan kepentingan minyak Amerika Serikat, sebab Amerika Serikat mempunyai cadangan minyak yang sangat kecil, hanya 0, 3 persen dari cadangan minyak dunia, sedangkan kebutuhan konsumsi minyak Amerika Serikat mencapai 23 persen.

Ketiga, perang ini berhubungan dengan ambisi Amerika Serikat sebagai negara terkuat di dunia yang tidak ingin setiap kepentingannya dihambat oleh apapun, termasuk sebuah rezim berkuasa.

Motif Invasi As Ke Irak Tahun 2003 Halaman 1

Dalam sepanjang sejarah hubungan Amerika Serikat -Israel, sejak awal Amerika Serikat selalu menjalin hubungan hangat dengan negara Yahudi itu. Amerika Serikat selalu bergandengan tangan dengan Israel khususnya untuk membendung pengaruh negara-negara 'garis-keras' Arab dan kelompok militan Islam yang menentang perilaku neo-kolonialisme dan neo-imperialisme di bawah pimpinan Amerika Serikat.

Dalam kacamata politik Amerika Serikat, potensi ancaman itu tak boleh dibiarkan apalagi jika mengarah pada sekutu dekatnya, Israel. Israel pernah menyatakan bahwa Irak berpotensi mengancam eksistensi Israel dengan tuduhan Irak punya rudal pemusnah massal yang mampu menjangkau wilayah Israel.

AS

Kewaspadaan Amerika Serikat terhadap situasi keamanan di Timur Tengah tidak pernah surut karena dalam pandangan Amerika Serikat kawasan ini memang belum pernah steril dari ancaman yang dapat membahayakan kepentingan Amerika Serikat dan keberadaan Israel.

Alasan Amerika Serikat Menyerang Irak Pada 2003

Negara yang dianggap Amerika Serikat menampilkan ancaman bahaya serius adalah Irak dan Suriah. Selain itu, ancaman juga berasal dari kelompok-kelompok Islam militan seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir, Hezbullah dan Hamas di Palestina, dan belakangan juga jaringan Al-Qaedah yang konon ada di seluruh kawasan Timur Tengah.

Untuk membendung perkembangan kekuatan yang diperhitungkan akan dapat mengganggu kepentingan ' Amerika Serikat kecil' dan 'Israel besar' itu, Amerika Serikat mengambil kebijakan lebih jauh dengan memperkuat posisi pertahanan Israel serta memberi berbagai paket bantuan ekonomi dan teknologi.

Itulah sebabnya Israel kini menjadi negara yang secara ekonomis, teknologi, dan militer paling unggul di Timur Tengah. Dengan demikian, Israel bisa menjadi faktor penekan dalam percaturan politik regional Timur Tengah.

As Beri Imbalan Rp 42,5 M Untuk Informasi Serangan Di Irak

Keberpihakan Amerika Serikat terhadap Israel pada perkembangannya kini sudah sampai pada tahap berlebihan dengan membiarkan apa saja perilaku Israel yang bertentangan dengan kemanusiaan, keadilan dan perdamaian.

Sikap Amerika Serikat seperti ini dapat dibaca dengan jelas dari perilaku standar gandanya, misalnya Amerika Serikat menjatuhkan sanksi embargo ekonomi terhadap Irak akibat serbuannya ke Kuwait dan Amerika Serikat tak pernah berbuat hal yang sama ketika Israel melakukan aksi militer terhadap Palestina. Juga, Amerika Serikat bersikeras melucuti senjata Irak sementara membiarkan Israel mengembangkan senjata pemusnah massal dalam jumlah dan skala besar.

Selain kepentingan pemupukan kekuatan Israel dalam rerangka kepentingan geopolitik, dalam agresinya ke Irak ini Amerika Serikat juga ingin meraih kepentingan ekonomi, khususnya sumber daya minyak. Sebagaimana diketahui bahwa kawasan Timur Tengah menyimpan cadangan minyak terbesar di dunia, mencapai sekitar 58 persen dari total cadangan minyak dunia. Cadangan minyak tersebut utamanya berada di Arab Saudi, Iran, Irak dan Kuwait.

Alasan

Mengapa Amerika Serikat Tidak Akan Sepenuhnya Mundur Dari Irak

Sementara ini, dua dari empat negara tersebut (Arab Saudi dan Kuwait) sudah tunduk dan bersedia melayani Amerika Serikat, sedangkan Irak di bawah Saddam Hussein masih menjadi 'anak binal' yang sulit ditundukkan. Kendati pasokan minyak Amerika Serikat dari Arab Saudi dan Kuwait serta sejumlah negara produsen minyak lain untuk sementara dapat memenuhi kebutuhan konsumsi minyak Amerika Serikat, namun untuk jangka panjang hal itu masih belum sanggup memenuhi rasa aman Amerika Serikat.

Itulah sebabnya, sejak sepuluh tahun terakhir Amerika Serikat sangat geregetan untuk mengusir Saddam Hussein dari singgasana kekuasaan Irak, karena Saddam dianggap menjadi penghalang ambisinya. Bila Saddam tersingkir, Amerika Serikat akan dapat leluasa menguasai sumber minyak Irak dan sekaligus menimbulkan rasa aman yang lebih besar bagi Israel.

Sebagai negara adidaya tunggal yang kekuatannya tak tertandingi di dunia, secara naluriah Amerika Serikat selalu condong untuk mendemonstrasikan supremasi dan superioritasnya. Predikat adidaya Amerika Serikat akan luntur dengan sendirinya apabila supremasi dan superioritas Amerika Serikat tidak pernah dibuktikan keampuhannya. Dalam pengertian itu, Amerika Serikat cenderung mencari target bidikan yang dapat digunakan sebagai sarana pembuktian. Bagi Amerika Serikat, yang paling mudah adalah membidik negara-negara yang dianggapnya 'suka membangkang'.

Mengingati 17 Tahun Penaklukan Us Atas Iraq

Hingga saat ini, tidak kurang dari tujuh negara telah menjadi korban pamer kekuasaan Amerika Serikat seperti Kuba, Libya, Somalia, Haiti, Afghanistan, Iran, dan Irak. Irak dihajar mesin perang AS secara keroyokan dalam Perang Teluk II pada 1991, Somalia dibombardir pada 1992 dan 1993, Haiti diserang pada 1994 dan 1995 untuk mengembalikan Presiden Aristides ke pentas kekuasaan Haiti, Balkan dibombardir dalam perang Bosnia pada 1999, Afghanistan dibombardir pula pada 2001 untuk menggulingkan rezim Taliban; dan pada 2003 Amerika Serikat. secara besar-besaran melancarkan agresi militer terhadap Irak untuk kedua kalinya.

Perang Irak yang digelar Amerika Serikat tanpa mandat PBB ini menunjukkan betapa Amerika Serikat tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri, arogan dalam arti yang keterlaluan.

Selama ini Amerika Serikat selalu mengklaim dirinya sebagai negara penjunjung demokrasi dan HAM, ternyata ia sendiri pelanggar demokrasi dan HAM. Bahkan pelanggaran demokrasi itu ditunjukkan di forum PBB, lembaga demokrasi dunia yang sangat terhormat. Semua ini lebih jauh menunjukkan bahwa betapa Amerika Serikat melecehkan fungsi dan harga-diri lembaga dunia yang sangat dihormati itu.

Dilema Amerika Serikat Di Fallujah, Irak

Yuk Ngaji Hari Ini يَوْمَىِٕذٍ لَّا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ اِلَّا مَنْ اَذِنَ لَهُ الرَّحْمٰنُ وَرَضِيَ لَهٗ قَوْلًا Pada hari itu tidak berguna syafaat (pertolongan), kecuali dari orang yang telah diberi izin oleh Tuhan Yang Maha Pengasih, dan Dia ridai perkataannya. (QS. Taha ayat 109)

Korban